Selasa, 30 Oktober 2012

Berbagai Macam Tempat Pariwisata


Bayang-bayang Pariwisata Kalimantan

Sintang-KOTA, (kalimantan-news) - Kalimantan tidak hanya dimiliki oleh negara Indonesia, namun berbagi tempat dengan Malaysia dan Brunai Darussalam. Tentu saja bila dikaitkan dengan potensi dan sumber daya pariwisatanya, sedikit banyak memiliki kemiripan.
Kemiripan yang berbasis latar kebudayaan Melayu dan kondisi geografis yang tidak jauh berbeda tentu saja akan mengesankan para turis dunia dalam melihat pariwisata di Kalimantan sebagai sebuah kesamaan.

Hal inilah yang dimanfaatkan secara cerdik oleh Badan Pariwisata Malaysia dengan mencanangkan slogan secara agresif, “Truly Asia” itu di Malaysia-Borneo, jauh-jauh hari.

Akibatnya cukup fatal, “agresi” promosi melalui media elektronik internasional seperti TV CNN, BBC dan website atau search engine terutama Yahoo dan MSN (Antara News, 2008) yang gencar dengan mempertontonkan bahwa orang Dayak dan satwa endemik Orangutan adanya hanya di negara mereka, mengakibatkan tertutupnya peluang branding bagi ke-4 propinsi di Kalimantan secara efektif.

Pariwisata sebagai sebuah industri strategis dan terbesar abad 21 (WTO, 2008), ptidak lagi dikelola dengan cara konvensional serta sebatas wilayah administrasi propinsi belaka. Upaya pengembangan berbasis borderless tourism (pariwisata tanpa batas wilayah) menjadi acuan penting bagaimana mengelola potensi pariwisata menjadi efektif dan efisien.

Lagi-lagi dalam hal ini, Kalimantan kalah cepat dan belum tanggap dengan upaya Malaysia yang telah meluncurkan Gawai Dayak secara besar-besaran berskala nasional di Serawak beberapa waktu lalu dan gaungnya jelas jauh lebih kuat mengukuhkan kebudayaan dan pariwisata mereka.

Oleh karenanya, tentu sangat tidak lucu bila pembangunan pariwisata yang dilakukan oleh ke-4 propinsi NKRI di Kalimantan saat ini masih dilakukan secara terpisah. Bahkan masih dalam situasi berkompetisi secara linier internal.

Aktivasikan Program Visit Kalimantan

Apa itu Visit Kalimantan? Tentu saja yang sering didengar adalah tema Visit Indonesia Year (VIY) yang selalu dicanangkan secara nasional setiap tahunnya. Suatu program rutin pemerintah pusat dalam upaya menggalang solidaritas daerah untuk mempromosikan secara intens daya tarik wisata lokal dan memikat dunia internasional.

Menggabungkan keberagaman daya tarik wisata yang ada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan & Kalimantan Barat sebagai satu kesatuan pariwisata menjadi ide sederhana akan Visit Kalimantan.

Setiap tahun, ke empat propinsi menyelenggarakan secara berkala event Festival Tahunan. Bila di Kalimantan Tengah diselenggarakan Festival Isen Mulang yang diselenggarakan bertepatan dengan HUT Kalteng bulan Mei tiap tahun, begitu pula di Kalimantan Selatan dengan Festival Pasar Terapung, setiap bulan Juli.

Di Kalimantan Barat selalu diselenggrakan Festival Cap Go Meh setiap bulan Februari, dan Festival Erau di Kalimantan Timur yang diselenggarakan setiap bulan Juli-Agustus.

Ke-4 event besar tersebut tentu saja mengangkat potensi daerah masing-masing, untuk diperkenalkan secara luas ke tingkat nasional. Namun sayang, masih dipromosikan dan dikelola secara terpisah. Sehingga terkesan berjalan masing-masing. Disinilah perlunya kemitraan yang berbasis smart partnership, menggalang solidaritas bersama memajukan pariwisata Kalimantan.

Tentu saja ada kerumitan dalam pengelolaan sebuah event besar dan program promosinya. Namun hal tersebut tentu saja tidak sebanding dengan dampak positif yang diperoleh, bila ke-4 propinsi urun berkolaborasi.

Citra positif yang tercipta hingga level skala internasional, branding yang mampu mengukuhkan bahwa Kalimantan-Indonesia lah pusat Melayu dan akulturasi budaya Dayak yang kaya, kemampuan merangsang rencana liburan para wisatawan agar tinggal lebih lama, hingga terbuka luasnya peluang kerja dan kesempatan kerja bagi masyarakat dalam pemanfaatan sektor ekonomi pariwisata melalui event yang terintegrasi.

Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata (community development)

Peran penting pariwisata dalam meretas manfaat ekonomi selanjutnya akan merangsang berbagai bentuk partisipasi masyarakat lokal dalam pembangunan pariwisata. Semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat, maka semakin besar pula dukungan, penerimaan dan toleransi masyarakat terhadap keberlanjutan pembangunan pariwisata.

Pariwisata merupakan sebuah community industry, sehingga keberlanjutan pembangunan pariwisata sangat tergantung dan ditentukan oleh dukungan dan penerimaan masyarakat terhadap pariwisata. Penerimaan dan dukungan akan terbentuk bila pariwisata lebih sensitif dan responsif terhadap berbagai kebutuhan masyarakat lokal.

Seringkali penyebab munculnya permasalahan dalam pembangunan pariwisata karena terabaikannya kebutuhan masyarakat lokal, sehingga masyarakat cenderung untuk membenarkan berbagai cara dalam memenuhi kebutuhannya, meskipun kontra produktif dengan keberlanjutan pembangunan pariwisata. Kecenderungan tersebut tentunya jika tidak dini diantisipasi, dapat menciptakan konflik kepentingan di antara masyarakat lokal, pelaku industri pariwisata dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan pembangunan pariwisata.

Visit Kalimantan di Fase Indonesia Kreatif

Melalui tularan Virus K (virus kreatif) yang menjadi tema Indonesia Kreatif oleh pemerintah pusat 7 Agustus 2009 lalu, Kalimantan tentu diharapkan akan mencapai fase aktivasi Ekonomi Kreatif berbasis masyarakat lokal.

Implementasi momentum tahun kreatif dengan Visit Kalimantan akan mewujud dan melibatkan perayaan atraksi wisata berbasis budaya lokal seperti tari-tarian daerah kontemporer, eksibisi potensi kuliner, kerajinan dan cinderamata asli daerah, pameran galeri desain produk lokal, karnaval/pawai budaya, media elektronik dan cetak, hingga pasar rakyat.

Melalui kreativitas yang dibalut pemanfaatan teknologi informasi terkini, tentu saja akan mempermudah banyak hal. Aspek keterjangakauan penyebaran berita semakin meluas, pengemasan (packaging) dari gabungan ke-4 event terbesar tersebut secara apik dan inovatif, akan mampu membuka sekat-sekat ego sektoral yang selama ini ditengarai masih berlangsung, bahkan termasuk mengirit ongkos publikasi secara signifikan.

Lebih dari itu, kungkungan dari rendahnya kualitas daya dukung infrastruktur dan pelayanan, tidak menjadi halangan berarti, bila kesatuan ini diimplementasikan dan dapat dijembatani oleh Badan Pariwisata Kalimantan (Kalimantan Tourism Board (KTB).

UU Kepariwisataan No.10 tahun 2009 secara jelas sangat mendukung dibentuknya badan-badan pariwisata di tingkat daerah dalam upaya mempercepat pembangunan pariwisata di tiap daerah Indonesia. Untuk penjelasan detil ide badan ini, Silahkan lihat di www.BorneoTourismWatch.wordpress.com atau opini yang sebelumnya dimuat di Harian Kalteng Pos edisi 15-16 Juni 2009.

Tentu saja Kalimantan Mampu!

* Rio S.Migang (Pendiri Jakarta Arsimedik Studio & Penggagas Borneo Tourism Watch).I Made Adi Kampana (Dosen Jurusan Pariwisata Universitas Udayana Bali). Keduanya alumni S2 Kajian Pariwisata MPAR-UGM angkatan II/2003.
Sumber :http://borneotourismwatch.wordpress.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar